Tonton video berikut ini untuk memahami prosedur dalam menggunakan layanan informasi publik
Jakarta – PT Perkebunan Nusantara III (Persero) meraih penghargaan Transaksi B2B PaDi UMKM Terbaik 2025 pada ajang PaDi Business Forum & Showcase 2026. Ajang ini menjadi bentuk apresiasi atas komitmen perusahaan dalam mendorong penguatan ekosistem Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui optimalisasi pemanfaatan platform PaDi UMKM. Dalam ajang tersebut, PT Perkebunan Nusantara III (Persero) berhasil meraih posisi ketiga pada kategori BUMN Tipe B (Grade Menengah), yang merupakan kelompok BUMN dengan kinerja operasional yang stabil. Penghargaan yang diterima menjadi motivasi strategis bagi PT Perkebunan Nusantara III (Persero) dalam mengembangkan ekosistem UMKM di Indonesia. Hal tersebut ditegaskan oleh Direktur SDM dan Umum, Endang Suraningsih yang hadir untuk menerima penghargaan di Jakarta pada 6 Mei 2026. “Kami berkomitmen meningkatkan kolaborasi dengan para pelaku usaha melalui metode pengadaan yang aksesibel dan modern. Tujuannya adalah menciptakan kemanfaatan yang lebih luas bagi pertumbuhan ekonomi,” ungkapnya. Endang menekankan pentingnya akuntabilitas dalam setiap lini program. “Keterbukaan informasi adalah fondasi kami. Lewat optimalisasi platform digital, kami memastikan proses pengadaan tidak hanya berlangsung efektif, tetapi juga memenuhi ekspektasi publik akan tata kelola yang bersih dan informatif.” Ajang PaDi Business Forum & Showcase 2026 sendiri merupakan forum kolaborasi yang mempertemukan BUMN dan pelaku UMKM dalam membangun ekosistem bisnis yang lebih terintegrasi, kompetitif, dan berkelanjutan melalui platform Pasar Digital (PaDi) UMKM. Kegiatan ini dirancang untuk mempertemukan BUMN dan UMKM agar dapat berinteraksi dan berkolaborasi dalam mendorong pengembangan UMKM, khususnya dalam rantai pasok pemasaran produk UMKM. Ke depan, Holding Perkebunan Nusantara akan terus memperkuat kolaborasi dengan UMKM melalui berbagai program kemitraan dan pengadaan yang adaptif. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari kontribusi perusahaan dalam menciptakan nilai tambah ekonomi dan sosial secara berkelanjutan. Keterangan Lebih Lanjut: Holding Perkebunan Nusantara PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Telp: +6221 29183300 Email : sekretariat@holding-perkebunan.com #gallery-1 { margin: auto; } #gallery-1 .gallery-item { float: left; margin-top: 10px; text-align: center; width: 50%; } #gallery-1 img { border: 2px solid #cfcfcf; } #gallery-1 .gallery-caption { margin-left: 0; } /* see gallery_shortcode() in wp-includes/media.php */
Jakarta, 27 April 2026 – Holding Perkebunan Nusantara, PT Perkebunan Nusantara III (Persero) (PTPN III) menjajaki kerja sama strategis pengembangan bioetanol melalui penandatanganan 3 (tiga) Nota Kesepahaman (MoU) bersama Pertamina Group dan Medco Group. Inisiatif ini merupakan bagian dari dukungan terhadap program mandatori bioetanol (E20) yang ditargetkan pemerintah pada tahun 2028, guna memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional. Penandatanganan MoU ini dihadiri oleh sejumlah pemangku kepentingan, antara lain Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Ali Jamil, Perwakilan Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Dyah Susilokarti, Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eng. Eniya Listiani Dewi, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri, Direktur Utama PT Pertamina Power Indonesia John Anis, CEO Medco Group Yana Sofyan Panigoro, Direktur PT Medco Intidinamika Aradea Z. Arifin, serta Jaksa Utama Muda Kejaksaan Agung RI, Nova Elida Saragih. Direktur Utama PTPN III (Persero), Denaldy Mulino Mauna, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pengembangan bioetanol merupakan bagian dari implementasi arah kebijakan nasional. “Pengembangan bioetanol ini sejalan dengan Asta Cita Bapak Presiden Prabowo, serta komitmen Bapak Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam memperkuat hilirisasi komoditas pertanian sebagai bagian dari strategi besar menuju ketahanan pangan dan energi nasional. Indonesia memiliki potensi besar dari komoditas seperti tebu (molases), ubi kayu, dan jagung yang dapat dioptimalkan sebagai sumber energi terbarukan,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa arah kebijakan pemerintah sudah jelas dalam mendorong kemandirian energi nasional. “Karena itu, pada Rapat Kerja Pemerintah tanggal 8 April 2026, Bapak Presiden menegaskan arah yang jelas: Indonesia harus mempercepat kemandirian pangan dan energi. Salah satu fokus utamanya adalah implementasi bioetanol E20 pada tahun 2028. Artinya, kita harus memastikan kesiapan nyata dari hulu sampai hilir,” lanjutnya. Denaldy menyampaikan bahwa keberhasilan implementasi E20 sangat bergantung pada kekuatan pasokan bahan baku dalam negeri. Untuk mencapai E20, kata Denaldy, kuncinya ada pada feedstock yang kuat dan berkelanjutan. “Dan kita memiliki itu. Tebu, ubi kayu, dan jagung adalah kekuatan kita. Tantangannya adalah bagaimana menghubungkan semuanya menjadi satu sistem. Dan hari ini kita mulai,” tegasnya. Senada dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Tin Latifah, yang disampaikan melalui Direktur Aneka Kacang dan Umbi (AKABI), Ditjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Dyah Susilokarti, menyatakan bahwa hilirisasi pertanian merupakan salah satu pilar utama pembangunan sektor pertanian dalam periode 2025–2029. Sejalan dengan program hilirisasi Kementerian Pertanian, PTPN Group mendapat arahan penugasan dalam hilirisasi komoditas tebu, ubi kayu dan jagung serta pembangunan 10 (sepuluh) unit pabrik bioetanol di Indonesia (Lampung, Jabar, Jatim, Sulsel, dan NTB). Dalam pengembangan bioetanol tersebut akan didukung oleh penguatan basis komoditas strategis nasional diantaranya tebu, ubi kayu dan jagung. Untuk komoditas tebu, PT SGN ditugaskan untuk perluasan lahan hingga tahun 2031 sekitar 500 ribu ha dan pembangunan pabrik bioetanol berbasis molases sebanyak 6 (enam) unit bekerjasama dengan Pertamina NRE (PNRE). Untuk pengembangan ubi kayu, PTPN III ditugaskan dalam pengembangan areal sekitar 104 ribu ha dan pembangunan pabrik bioetanol berbasis ubi kayu sebanyak 2 (dua) unit bekerjasama dengan Medco & PNRE. Sedangkan untuk komoditas jagung ditargetkan pengembangan areal PTPN I seluas 250 ribu ha dan pembangunan pabrik bioetanol berbasis jagung sebanyak 2 (dua) unit yang juga akan bekerjasama dengan mitra. Langkah strategis ini menjadi fondasi penting dalam memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku bioetanol nasional secara jangka panjang. Denaldy juga menekankan pentingnya sinergi antar pelaku industri dalam membangun ekosistem bioetanol nasional: PTPN memastikan bahan baku, Pertamina menggerakkan hilirisasi dan penyerapan energi, dan Medco memperkuat pengembangan industrinya. Sebagai langkah awal, pengembangan bioetanol berbasis ubi kayu seluas 10 ribu ha akan difokuskan di wilayah Lampung melalui revitalisasi pabrik eksisting milik Medco dan pembangunan pabrik bioetanol multi feedstock (berbasis ubi kayu & jagung) di Bone, Sulawesi Selatan, yang selanjutnya akan diperluas ke sejumlah titik lainnya guna membangun ekosistem industri yang lebih luas dan terintegrasi. “Jika ini berjalan, dampaknya jelas. Petani memiliki kepastian pasar. Industri bioetanol memiliki pasokan yang lebih stabil. Dan Indonesia mulai mengurangi ketergantungan terhadap energi impor,” tambahnya. Kerja sama ini sejalan dengan kebijakan pemerintah, antara lain Keputusan Menteri ESDM Nomor 113 Tahun 2026 tentang penahapan pemanfaatan bahan bakar nabati serta Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2026 tentang percepatan swasembada pangan bidang pertanian. Dalam kebijakan tersebut, pemerintah secara eksplisit menugaskan BUMN sektor pertanian, termasuk PTPN III (Persero), untuk memperkuat produksi, pengelolaan, dan integrasi rantai pasok komoditas strategis guna mendukung ketahanan pangan dan energi nasional . Melalui penandatanganan MoU ini, PTPN Group, Pertamina Group, dan Medco Group akan bekerjasama memanfaatkan potensi, keahlian, serta fasilitas yang dimiliki masing-masing pihak dalam rangka pengembangan industri bioetanol. Sinergi ini diharapkan dapat mempercepat implementasi program E20 secara terarah, terukur, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung transisi menuju energi bersih di Indonesia. Keterangan Lebih Lanjut: Holding Perkebunan Nusantara PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Telp: +6221 29183300 Email : sekretariat@holding-perkebunan.com
Memanfaatkan momentum Hari Bumi Sedunia 2026 yang mengusung tema ‘Our Power, Our Planet’, PTPN Group menggelar aksi ‘One Man One Tree’. Inisiatif ini menggerakkan kekuatan kolektif seluruh karyawan untuk menanam minimal satu pohon di sekitar wilayah operasional perusahaan. Langkah tersebut tidak hanya fokus pada pemulihan lingkungan, tetapi juga menjadi upaya memperkuat ekosistem perkebunan berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan pilar Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yaitu PTPN Hijau, yang memprioritaskan konservasi sumber daya alam serta pelestarian keanekaragaman hayati. Program penanaman pohon ini sekaligus memperkuat komitmen perusahaan untuk rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) dalam pemenuhan kewajiban sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) sebagai indikator bahwa operasional perkebunan khususnya sawit telah memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan. Bersama dengan Sub Holding PTPN I, PTPN IV dan PT SGN, Program penanaman pohon yang merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan PTPN Group, sampai dengan tahun 2026 telah berhasil menanam sedikitnya 142.400 pohon sejak 2024 dengan pelibatan berbagai pemangku kepentingan seperti pemerintah, mahasiswa dan kelompok masyarakat. Guna memastikan dampak yang optimal, pemilihan jenis vegetasi disesuaikan dengan kebutuhan ekologi serta potensi sosio-ekonomi di masing-masing wilayah operasional. Ragam tanaman yang ditanam mencakup kategori konservasi seperti Pinus, Damar, Mahoni, Cendana, Bayur, Jamblang, Kiara Payung, Cemara, Ketapang untuk penguatan ekosistem, serta tanaman produktif seperti Alpukat, Nangka, Durian, Jambu, dan Aren yang bernilai ekonomi bagi masyarakat. Aksi penanaman ini diprioritaskan pada lokasi strategis, meliputi Daerah Aliran Sungai (DAS), rehabilitasi lahan kritis, hingga penghijauan di area publik. Denaldy Mulino Mauna, Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara III (Persero) menyampaikan bahwa penanaman pohon ini merupakan bagian kesatuan dari seluruh gerak proses bisnis yang dilakukan PTPN Group. “Pertumbuhan bisnis harus berjalan selaras dengan upaya pelestarian alam. Oleh karena itu, setiap langkah perusahaan tidak hanya berorientasi pada produktivitas dan kinerja usaha, tetapi juga pada keberlanjutan ekosistem, serta peningkatan kualitas lingkungan di sekitar wilayah operasional perusahaan.”, tutupnya. #gallery-1 { margin: auto; } #gallery-1 .gallery-item { float: left; margin-top: 10px; text-align: center; width: 50%; } #gallery-1 img { border: 2px solid #cfcfcf; } #gallery-1 .gallery-caption { margin-left: 0; } /* see gallery_shortcode() in wp-includes/media.php */